Ruang Guru Belum Ada Perhatian Sekolah

Metro Realita
Sekolah Vaforit SMP Negeri 2 Toroh, Grobogan. Akibat tanah Gerak disertai dengan pergantian iklim menyebabkan Lantai dasar keramik retak-retak bahkan beberapa bagian pondasi sampai terangkat keatas. Tak ketinggalan bahkan tembok-tembok bangunan lama ini pun retak-retak cukup signifikan merata di sana-sini.Namun Proses belajar dan mengajar seperti ini masih saja berjalan seperti biasanya mengingat kondisi kantor guru juga sangat memprihatinkan.Hingga Metro Realita
melihat secara langsung pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa itu tetap setia dan tulus ikhlas mengabdikan dirinya, mendidik demi masa depan bangsa meski bangunan danfasilitas belajar ini belum mendukung dan mumpuni .
Sekolah SMPN 2 Toroh yang terdiri dari 26 lokal kelas didukung oleh 63 tenaga pengajar dan administrasi dipimpin oleh kepala sekolah, Drs. H. Nurhuda, MM. Ketika ditemui di ruang kerjanya mengatakan bahwa bangunan mendapat informasi, walau banyak mengalami keretakan bangunan di sana sini, ruang kantor belum pernah direnovasi sejak tahun 1985 silam.
Walau kelihatan di lokal-lokal kelas terlihat renovasi di sana-sini seperti di cat baru dan sebagainya, ruang-ruang tua kantor para guru dan tenaga administrasi tidaklah tersentuh. Memang terlihat para guru teladan ini lebih mementingkan kenyamanan para anak didiknya dalam menerima pelajaran daripada kenyamana pribadi-pribadi mereka sendiri waktu menunggu bel belajar dan mengurus segala sesuatunya di ruang guru.
Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada kepala sekolah, Drs. Nurhuda, MM mengatakan bahwa, bagaimana mau mengajukan anggaran perbaikan, diterima apa adanya saja, sebab bahkan anggaran operasional sekolah bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten saja malah diturunkan besarannya.Maka sekolah jadi sangat tergantung dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang demikian sedikit tapi sedemikian ketat pertanggung jawabannya itu serta SPP siswa yang “tidak boleh” ditarik berlebihan. “Kelihatannya saja Anggaran Pendidikan naik, sekarang diwajibkan 20 % dari APBN, tetapi di tingkat penjabaran di lapangan belum sempat menyentuh peningkatan kenyamanan kerja dan kesejahteraan para guru secara keseluruhan,”tegasnya
Saya juga telah memberikan pengarahan kepada para guru untuk tetap bersabar walau tunjangan mengajar maupun tunjangan wali kelas secara intruksional dari atas tidak mengalami kenaikan, sebab sekolah tetap memperhatikan hal - hal tersebut segera setelah kondisi keuangan memungkinkan.Tetapi apa memanglah demikian mengenaskan keadaannya ? menurut beberpa sumber bahwa untuk PMB (Penerimaan Murid Baru) 2009 ini, para siswa baru kelas 1 untuk pakaian seragam diminta membeli dari koperasi sekolah kain kebutuhan seragam dan kaos olahraga sebesar total Rp. 375 ribu. Itu terdiri dari Rp. 40 ribu untuk kaos olahraga, dan Rp. 335 ribu untuk kain baju seragam dan celana/rok kebutuhan untuk 3 stel ( 2 seragam biru-putih dan 1 seragam pramuka) lengkap dengan sabuk dan topi.
Jika diasumsikan seragam tersebut sudah dijahit, jika harga normal sabuk dan topi Rp. 25 ribu dan Rp 15 ribu (total Rp 40 ribu) maka harga 3 setel seragam tersebut dihargai sekolah sebesar masing-masing Rp. 98.500,- Padahal rata-rata harga 1 stel untuk anak SMP normal adalah sekitar Rp. 60 – 70 ribu saja (harga sudah diasumsikan yang tertinggi mutu baik), maka sekolah masih mempunyai keuntungan Rp. 28.500,- x 3 = Rp. 85.500,- untuk tiap murid baru.Hal inilah dana tambahan untuk menutup kekurangan biaya operasional sekolah dan lain sebagainya : Rp. 85.500 x (hampir 270an siswa baru) = hampir Rp. 23 juta lebih…. Ya salah satu penyiasatan menghadapi anggaran pendidikan yang ketat. (Slamet/gus )

Metro Realita News

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...