Metro Realita Grobogan
Ibadah akan semakin berwarna dan khusyu dan kitapun makin bertambah semangat untuk beribadah ,Maka paradigma masyarakat dapat berubah setelah adanya penggunaan Mukena sebagai pencitraan bernuansa islami. Masyarakat bisa dapat menyadari bahwa kebersihan dalam beribadah, apalagi ingin berhadapan dengan Allah swt, merupakan faktor penting dalam agama Islam. “Kalau dari hal kecil seperti menjaga kebersihan fisik ini saja pasti dapat kita jaga, bagaimana dengan kondisi spiritual, mental dan yang lainnya.Meskipun kab.Grobogan termasuk daerah agraris, dimana sebagian besar penduduknya bercocok tanam
akan tetapi dibeberapa tempat masih bisa dijumpai industri baik yang bersekala besar maupun kecil. Misal seperti halnya di kecamatan Tawangharjo yang memiliki 10 desa antara lain 1 PULONGRAMBE ,2 MAYAHAN ,3 J O N O ,4 S E L O ,5 TAWANGHARJO ,6 T A R U B ,7 P O J O K ,8 PLOSOREJO ,9 G O D A N ,10 KEMADOHBATUR ,namun tepatnya di desa Selo tersebut maka akan kita jumpai industri mukena yang cukup menarik dan unik.Meskipun industri ini termasuk industri rumah tangga (home industry ) akan tetapi dari jumlah produksinya cukup banyak bahkan mampu menembus pasar luar kab. Grobogan seperti Kabupaten Pati ,Kudus ,Jepara bahkan sampai bandung
Pers rilis yang diadakan oleh Kabag Humas Pemda Grobogan, beserta jajarannya dan para jurnalis (07/10) mengadakan kunjungan ke desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Industri yang telah berkembang sejak tahun 1995 sampai sekarang perkembanganya semakin baik. Telah diproduksi berbagai hasil seperti seperti mukena, kerudung, perlengkapan seragam sekolah.Proses produksi industri mukena sebenarnya dekat dengan jantung kota Purwodadi sekitar 13 Km kearah timur tepat pada perempatan makam Ki Ageng Selo RT 05 RW II desa Selo Kecamatan Tawangharjo.
Menurut keterangan Muhammad Ulin Luha selaku pemilik industri mukena pihaknya mulai merintis usahanya pada tahun 1992 bersama istrinya yang bernama Fathonah. Industri Mukena yang dimilikinya diberi nama An – Nabilla yang disesuaikan dengan nama anaknya yang pertama.Pada awal menjalankan usaha Ulin Luha cukup banyak kendala yang dihadapi dari modal yang pas – pasan, tenaga, dan pangsa pasar yang semuanya perlu dihadapi dengan kesabaran dan keuletan. Berkat dukunyan dari istrinya lebih – lebih saran dari tokoh masyarakat yaitu istri Kyai Kholil dan Masruri agar usaha mukenanya tetap dijalankan ditekuni lambat laun akhirnya mulai banyak dikenal. Kebetulan kedua istri kyai tersebut memang menguasai dalam membuat mukena ( rukuh perlengkapan shalat )Pada waktu itu Ulin Luha dalam menjalankan usahanya hanya dengan bermodal satu mesin jahit manual. Dan mula – mula hanya focus pada pembuatan kerudung saja. Lebih- lebih waktu itu pernah terjadi krisis moneter sehingga cukup berdampak pada usaha yang baru saja dirintisnya. “ Ya cukup terasa adanya krisis moneter apalagi usaha kami baru mulai.” Jelas Muh.Ulin Luha dihadapan wartawan yang datang di rumahnya. “ Akan tetapi dengan sabar dan istiqomah kendala yang ada tetap bisa dihadapi.” Imbuhnya.
Setelah krismon berlalu dan kondisi ekonomi mulai pulih Ulin Luha mencoba membeli 1 mesin bordir yang kebetulan istrinya cukup menguasai soal bordir – membordir.Setelah memiliki mesin bordir Fathonah mencoba memadukan kreasinya bordir pada mukena yang sudah ia kuasainya. Akhirnya tercipta suatu bentuk kreasi yang menarik dan cantik pada industri mukena An – Nabilla milik Muh Ulin Luha.Pada perkembangannya industri kerudung dan mukena cukup baik. Ini terbukti sampai saat ini mampu menyerap tenaga kerja sekitar 12 pekerja. Dan kebanyakan yang bekerja disana rata – rata dari desa setempat.Adapun penggajian untuktenaga kerja menggunakan system borongan.Apalagi setelah mendapat bantuan dari Pemkab. Grobogan melalui Bapermas sebesar Rp.7.500.000,00 jumlah mesin bordir sekarang bertambah lagi. Semula ada 5 mesin bordir sekarang menjadi 6 mesin bordir. Dengan 6 mesin bordir jumlah produksi mukena semakin bertambah banyak sehingga peluang pasar semakin terbuka. Sedangkan pangsa pasar kerudung dan mukena An – Nabilla mulai kerkembang dengan pesat. Untuk pedagang yang mengambil kerudung dan mukena An- Nabilla cukup beragam. Disamping pedagang local seperti Purwodadi, Godong, Tegowanu, dan Karangrayung pedagang dari kota – kota besar seperti Semarang dan Kudus juga ada yang mengambinya. Untuk harga kerudung cukup beragam apalagi mukena sangat berfariasi.Ada yang berharga Rp.100.000,00 bahkan yang termurah hanya Rp.25.000,00 saja. Untuk harga tengah bisa dari Rp.75.000,00 sampai Rp. 35.000,00. Bahkan untuk mukena anak – anak cukup dengan harga Rp.15.000,00 saja sudah bagus dan cantik.Industri ini telah menyerap tenaga kerja dan pendapatan masyarakat sekitarnya, sehingga peran Pemda Grobogan adalah untuk mengadakan pembinaan dan pelatihan, sehingga industri ini akan terus berkembang.Selain itu usaha ini akan terus dikembangkan dengan cara perluasan usaha dan pemberian mesin kepada masyarakat yang mempunyai ketrampilan di bidang tersebut. Untuk itu mengharapkan bantuan modal kepada pemerintah daerah, sehingga dapat meningkatkan usahanya dan dapat menyerap tenaga kerja.(gus Murgan)